Senin, Juli 27, 2026
Sosial

FAKTA Indonesia Kampanye Anak Bukan Target Pasar Minuman Manis, Desak Pemerintah Terapkan Cukai MBDK

DAILYBEKASI.COM, JAKARTA Forum Warga Kota (FAKTA) Indonesia memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional 2026 untuk mengampanyekan pentingnya membatasi konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada anak-anak. Kampanye bertajuk “Anak Bukan Target Pasar Minuman Berpemanis Dalam Kemasan” digelar saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day di Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (26/7/2026).

Kegiatan yang diikuti ratusan anak dari Jakarta, Bogor, hingga Bekasi tersebut dikemas melalui lomba mewarnai sebagai sarana edukasi agar anak memahami risiko konsumsi minuman berpemanis secara berlebihan. Dalam kesempatan itu, FAKTA Indonesia juga mendesak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai upaya melindungi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.

Ketua FAKTA Indonesia, Ari Subagio Wibowo, mengatakan lomba mewarnai bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan media edukasi untuk mengenalkan dampak negatif konsumsi minuman berpemanis sejak usia dini.

“Lomba ini bukan sekadar kompetisi, tetapi menjadi media edukasi agar anak-anak memahami bahaya mengonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan secara berlebihan,” ujar Ari.

Menurut Ari, edukasi kesehatan sejak dini menjadi langkah penting untuk menekan meningkatnya penyakit tidak menular akibat konsumsi gula berlebih, seperti obesitas, diabetes, hingga penyakit kronis lainnya.

Ia menilai upaya membangun pola hidup sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab anak-anak, tetapi juga membutuhkan peran aktif orangtua dan sekolah. Sekolah diharapkan menyediakan pilihan minuman yang lebih sehat di kantin, sementara orangtua membiasakan anak mengonsumsi air putih dalam aktivitas sehari-hari.

Selain edukasi, FAKTA Indonesia mendorong pemerintah segera menerapkan cukai terhadap MBDK. Kebijakan tersebut dinilai mampu menjadi instrumen pengendalian konsumsi sekaligus mendorong industri lebih bertanggung jawab terhadap produk yang dipasarkan.

“Kami berharap negara hadir melalui kebijakan cukai MBDK agar perlindungan terhadap kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak, semakin kuat,” katanya.

Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai penyelenggaraan HBKB menjadi ruang yang efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat. Ia juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang terus menjaga kawasan tersebut sebagai ruang publik yang sehat dan ramah keluarga.

Menurutnya, tingginya jumlah pengunjung HBKB membuat pesan mengenai bahaya konsumsi minuman berpemanis dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

“Hari ini kami bersama anak-anak kampung di Jakarta mengajak pemerintah segera menerapkan cukai MBDK sebagai langkah pencegahan agar anak-anak Indonesia tumbuh sehat. Ini merupakan investasi bagi masa depan bangsa,” tegas Tigor.

Ia menambahkan, kampanye tersebut menjadi semakin penting karena anak-anak kini menjadi salah satu sasaran utama pemasaran berbagai produk minuman berpemanis dalam kemasan. Karena itu, selain menerapkan cukai, pemerintah juga diminta memperketat pengawasan terhadap promosi dan iklan MBDK yang menyasar anak-anak, termasuk menertibkan media promosi yang tidak memiliki izin.

“Jangan sampai bonus demografi dan Generasi Emas Indonesia gagal karena tingginya penyakit tidak menular. Anak-anak harus kita lindungi sejak sekarang,” ujarnya.

Sementara itu, kampanye tersebut mendapat respons positif dari para orangtua. Rahma (38), warga Koja, Jakarta Utara, menilai edukasi melalui kegiatan bermain lebih mudah dipahami anak dibandingkan hanya memberikan nasihat di rumah.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena anak-anak jadi tahu dampak buruk terlalu banyak mengonsumsi minuman manis. Kadang mereka lebih mudah memahami jika mendapat penjelasan langsung dalam kegiatan seperti ini,” katanya.

Rahma juga mendukung rencana penerapan cukai MBDK. Menurutnya, kenaikan harga dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis di kalangan anak-anak. Ia mengaku telah membiasakan anaknya membawa air putih dari rumah sebagai pilihan minuman sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *