Rabu, Juli 29, 2026
Sosial

Kisah Penjaga Rel Bulak Kapal: Bertugas Sukarela, Sering Dimaki dan Ditabrak Pengendara Nekat

DAILYBEKASI.COM, BEKASI – Berdiri di tengah rel kereta api sambil meniup peluit dan mengatur arus kendaraan sudah menjadi rutinitas para penjaga pelintasan swadaya di Pelintasan Sebidang Bulak Kapal, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi. Meski bertugas demi keselamatan masyarakat, mereka justru kerap menghadapi berbagai risiko, mulai dari dimaki pengendara hingga pernah tertabrak saat menghalau kendaraan yang nekat menerobos rel.

Salah seorang penjaga pelintasan, Alfian (21), mengaku pengalaman tersebut bukan hal baru baginya.

“Pernah dimaki-maki sama pengendara. Katanya, ‘awas gua mau lewat’. Pernah juga ditabrak pengendara yang maksa menerobos. Padahal semua yang kami lakukan semata-mata demi keselamatan pengguna jalan,” ujar Alfian, Senin (27/7/2026).

Menurut Alfian, pelanggaran lalu lintas di pelintasan masih sering terjadi. Banyak pengendara tetap memaksa melintas meski telah diperingatkan bahwa kereta akan segera melintas.

“Banyak pengendara yang susah diatur. Sudah diarahkan agar berada di sisi kiri, tetapi tetap mengambil jalur kanan atau berhenti di tengah rel. Jumlahnya enggak terhitung, hampir setiap hari,” katanya.

Alfian mengatakan dirinya bersama lima rekannya bergantian menjaga pelintasan selama 24 jam. Mereka tidak mengandalkan jadwal perjalanan kereta, melainkan terus memantau kondisi jalur dan sinyal agar dapat menutup pelintasan pada waktu yang tepat.

“Kami enggak menghafal jadwal kereta, tetapi selalu memperhatikan kondisi jalur dan sinyal. Kalau siang kami melihat kondisi lintasan, sedangkan malam hari terbantu dengan lampu sinyal,” ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar kecelakaan di Pelintasan Bulak Kapal dipicu oleh pengendara yang tetap memaksa melintas meski telah diingatkan petugas.

Hal senada disampaikan Luki (39), penjaga pelintasan yang telah lima tahun bertugas di lokasi tersebut. Ia mengaku masih sering menghadapi pengendara yang tidak sabar menunggu kereta melintas.

“Mereka juga sering menganggap kereta masih jauh, padahal diberhentiin juga buat keselamatan sendiri,” kata Luki.

Ia menambahkan, masih banyak pengendara yang tetap menerobos meski palang manual telah ditutup.

“Pokoknya masih banyak yang susah diatur. Padahal apa susahnya nunggu. Kalau maksa lewat juga kan bahaya,” ujarnya.

Di balik tanggung jawab besar tersebut, Luki mengungkapkan bahwa dirinya bersama rekan-rekannya tidak menerima honor dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) maupun instansi pemerintah lainnya.

“Selama ini kami bertugas secara sukarela,” ungkapnya.

Meski tanpa imbalan, Luki memilih tetap menjalankan tugas karena merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi keselamatan masyarakat.

“Yang membuat saya tetap bertahan adalah menjalankan amanah untuk membantu menjaga keselamatan masyarakat,” tuturnya.

Alfian dan Luki menilai keselamatan di pelintasan sebidang tidak hanya bergantung pada keberadaan penjaga ataupun fasilitas seperti palang pintu otomatis. Menurut mereka, kesadaran pengguna jalan untuk mematuhi aturan menjadi faktor utama dalam mencegah kecelakaan.

Keduanya berharap masyarakat lebih bersabar saat kereta akan melintas dan tidak memaksakan diri menerobos rel. Selain itu, mereka juga meminta pemerintah segera menghadirkan solusi permanen berupa pembangunan underpass maupun pemasangan palang pintu otomatis di Pelintasan Bulak Kapal yang hingga kini masih mengandalkan penjagaan manual, meski menjadi salah satu titik dengan lalu lintas kendaraan terpadat di Kota Bekasi.

Sementara itu, Manajer Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo, menyatakan bahwa kewenangan pemasangan palang pintu otomatis berada di Pemerintah Kota Bekasi. Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Zeno Bachtiar, belum memberikan keterangan terkait rencana pemasangan palang pintu otomatis di lokasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *