Perumda Tirta Patriot Imbau Warga Bekasi Jangan Gunakan Air PDAM untuk Minum dan Memasak
DAILYBEKASI.COM, BEKASI – Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi mengimbau masyarakat untuk sementara tidak menggunakan air PDAM untuk kebutuhan minum maupun memasak setelah kualitas air baku di Kali Bekasi mengalami penurunan drastis. Air sungai dilaporkan berubah menjadi hitam pekat, berbusa, dan mengeluarkan bau menyengat yang diduga akibat pencemaran.
Manager Produksi Perumda Tirta Patriot Kota Bekasi, Ahmad Giri Widodo, mengatakan air PDAM saat ini sebaiknya hanya dimanfaatkan untuk keperluan mandi, mencuci, dan membilas hingga kondisi kualitas air kembali normal.
“Untuk sementara air sebaiknya hanya digunakan untuk mandi, mencuci, dan membilas. Untuk minum maupun memasak, kami sarankan belum digunakan,” ujar Giri dalam keterangan resminya, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, memburuknya kualitas air baku membuat proses produksi air bersih menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan kondisi normal. Perumda Tirta Patriot pun menerapkan sejumlah penanganan khusus agar hasil pengolahan tetap memenuhi standar.
Langkah yang dilakukan meliputi penambahan proses aerasi pada tahap awal pengolahan guna meningkatkan kadar oksigen di dalam air, penerapan pre-klorinasi lebih awal untuk membunuh bakteri, hingga peningkatan dosis bahan kimia agar proses pengendapan kotoran berlangsung lebih optimal.
Meski demikian, Giri mengakui kondisi air baku yang hitam pekat dan berbau menyengat masih menjadi tantangan besar. Ia menyebut kondisi mulai sedikit membaik setelah hujan mengguyur wilayah hulu pada Selasa malam, sehingga membantu mengencerkan konsentrasi pencemar di aliran Kali Bekasi.
“Selama sekitar satu minggu terakhir air benar-benar hitam pekat dan baunya sangat kuat. Kondisi itu sangat berat bagi proses pengolahan,” katanya.
Demi menjaga kualitas air hasil produksi, Perumda Tirta Patriot juga menurunkan kapasitas produksi dari yang biasanya berkisar 500–600 liter per detik menjadi sekitar 500 liter per detik. Selain itu, pengawasan kualitas air diperketat melalui pemantauan laboratorium dan operator instalasi selama 24 jam. Hasil pemeriksaan dilaporkan kepada manajemen setiap dua jam sebagai dasar pengambilan keputusan operasional.
Pencemaran tersebut juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional perusahaan karena penggunaan energi bertambah untuk mengoperasikan pompa aerasi dan proses pengolahan air.
Perumda Tirta Patriot turut berkoordinasi dengan Perum Jasa Tirta (PJT) II terkait pengaturan debit air dari hulu guna membantu mengencerkan tingkat pencemaran. Di sisi lain, bersama Pemerintah Kota Bekasi, perusahaan juga mendistribusikan air bersih menggunakan mobil tangki kepada pelanggan yang terdampak.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran, pemantauan, serta pengambilan sampel air menyusul laporan masyarakat mengenai perubahan warna air di Kali Bekasi dan Kali Medan Satria.
Pengambilan sampel dilakukan di Kali Cileungsi pada 20 Juli 2026 dan Kali Bekasi pada 22 Juli 2026, kemudian dilanjutkan penelusuran aliran sungai pada 27 dan 30 Juli 2026 oleh Tim Pengawas Lingkungan Hidup, Pasukan Katak, dan UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi.
Hasil pemantauan menunjukkan air di sekitar Cluster Richmond, Kota Wisata, Desa Ciangsana, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, berwarna hitam dan mengeluarkan bau menyengat. Uji laboratorium juga menemukan sejumlah parameter kualitas air telah melampaui baku mutu lingkungan.
Parameter yang melebihi ambang batas meliputi Total Suspended Solids (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Dissolved Oxygen (DO), nikel terlarut, seng terlarut, tembaga terlarut, serta Fecal Coliform, yang mengindikasikan adanya pencemaran dan penurunan kualitas air di sepanjang aliran sungai.
Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, sumber pencemaran diduga berasal dari wilayah Kabupaten Bogor. Karena dampaknya melintasi batas administrasi, DLH Kota Bekasi telah mengirimkan surat kepada Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, DLH Provinsi Jawa Barat, dan DLH Kabupaten Bogor untuk mempercepat penanganan.
DLH Kota Bekasi juga memastikan akan terus melakukan pemantauan kualitas air secara berkala serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait guna mengungkap sumber pencemaran dan memulihkan kondisi Kali Bekasi serta Kali Medan Satria.
Sebelumnya, berdasarkan pantauan di kawasan Jembatan M. Hasibuan, Bekasi Timur, Rabu (5/8/2026), air Kali Bekasi tampak berwarna hitam pekat, dipenuhi busa putih yang mengikuti arus, dan mengeluarkan bau menyengat. Kondisi serupa juga terlihat di Kali Medan Satria yang airnya menghitam dan menimbulkan aroma tidak sedap hingga dikeluhkan warga sekitar.
