Usai Insiden Maut Bekasi Timur, KAI Siapkan Rp842,48 Miliar untuk Keselamatan Kereta
DAILYBEKASI.COM, BEKASI – PT Kereta Api Indonesia (KAI) menyiapkan langkah mitigasi dan pembenahan besar-besaran pasca tragedi kecelakaan maut antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) lalu.
Tak tanggung-tanggung, anggaran sebesar Rp842,48 miliar disiapkan untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api, khususnya di perlintasan sebidang yang dinilai rawan kecelakaan.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pihaknya langsung menerapkan langkah mitigasi darurat sehari setelah insiden terjadi.
“Kami sudah menjalankan short term mitigation plan satu hari pasca kejadian di Bekasi Timur,” kata Bobby, Jumat (22/5/2026).
Salah satu kebijakan yang diterapkan yakni pembatasan kecepatan Kereta Api Jarak Jauh pada jalur yang berhimpitan dengan lintasan KRL.
Selain itu, seluruh KA Jarak Jauh diwajibkan melakukan Berhenti Luar Biasa (BLB) di Stasiun Bekasi sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah kereta berhenti, petugas akan memastikan kondisi jalur aman hingga blok 103T.
“Ini untuk memastikan jalur steril dan memitigasi risiko kejadian yang tidak diinginkan,” ujarnya.
Tak hanya melakukan penyesuaian operasional perjalanan kereta, KAI juga mempercepat pembenahan perlintasan sebidang berdasarkan rekomendasi Kementerian Perhubungan.
Tercatat sebanyak 1.638 perlintasan sebidang di berbagai wilayah membutuhkan peningkatan fasilitas keselamatan.
KAI mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat kota, kabupaten hingga provinsi, untuk mempercepat pemasangan maupun peningkatan palang pintu perlintasan.
“Kami berkoordinasi dengan pemerintah kota, kabupaten hingga provinsi untuk peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang,” ungkap Bobby.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan menghitung kebutuhan anggaran program keselamatan tersebut mencapai Rp842,48 miliar.
Dari total anggaran itu, sebesar Rp603,9 miliar dialokasikan untuk penyediaan petugas penjaga lintasan. Kemudian Rp158,1 miliar digunakan untuk pembangunan pos jaga, serta Rp60,9 miliar lainnya untuk fasilitas mekanikal dan elektrikal pendukung keselamatan.
Diketahui, insiden maut di Bekasi Timur bermula saat KRL relasi Bekasi–Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, rangkaian KRL harus dievakuasi dan ditetapkan sebagai perjalanan luar biasa (PLB) karena berjalan di luar jadwal reguler.
Tak lama berselang, satu rangkaian KRL lainnya diberhentikan di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun nahas, KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti sempurna hingga akhirnya terlibat insiden dengan KRL yang sedang berhenti tersebut.

