Kamis, Mei 21, 2026
EkonomiHukumSosial

Kenaikan Harga Tak Terbendung, Pinjol Jadi Penolong Sementara Warga Bekasi

DAILYBEKASI.COM, BEKASI – Tekanan ekonomi mulai dirasakan kuat oleh masyarakat kelas menengah di Bekasi. Jika sebelumnya banyak warga masih mampu bertahan dengan mengandalkan tabungan, kini sebagian mulai bergantung pada pinjaman online dan layanan paylater untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut dipicu kenaikan biaya hidup yang terus melambung, sementara pendapatan masyarakat dinilai tidak mengalami peningkatan signifikan. Akibatnya, banyak pekerja muda di Bekasi kesulitan menyisihkan penghasilan bahkan sebelum akhir bulan tiba.

Elvin (24), pekerja perusahaan digital di Bekasi Timur, mengaku beberapa kali menggunakan pinjaman online saat kondisi keuangan mulai menipis.

“Kadang pinjam cuma buat pegangan sampai gajian,” ujarnya.

Dengan penghasilan sekitar Rp3,5 juta per bulan, sebagian besar pendapatannya habis untuk biaya transportasi menuju Jakarta, kontrakan, makan, hingga kebutuhan penunjang kerja seperti internet. Pengeluaran transportasi saja mencapai lebih dari Rp1 juta per bulan.

Menurutnya, situasi tersebut membuat ruang untuk menabung hampir tidak ada. Untuk menambah pemasukan, Elvin kini mengambil pekerjaan sampingan sebagai videografer freelance saat ada permintaan.

Fenomena serupa juga dirasakan Dimas Saputra (26), pekerja sektor keuangan di Bekasi. Namun berbeda dengan Elvin, Dimas memilih memperketat gaya hidup dibanding mengambil utang.

Ia menilai kenaikan gaji tahunan tidak mampu mengejar lonjakan kebutuhan pokok dan biaya hidup perkotaan.

“Kebutuhan naik terus, sementara penghasilan kenaikannya biasa saja,” katanya.

Dimas menyoroti tingginya biaya transportasi dan kebutuhan hunian yang menjadi beban utama pekerja di wilayah penyangga Jakarta seperti Bekasi. Ia berharap pemerintah lebih serius menghadirkan kebijakan yang bisa menekan pengeluaran masyarakat kelas menengah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran masyarakat Kota Bekasi mencapai Rp2,8 juta per bulan. Sebagian besar digunakan untuk kebutuhan nonmakanan seperti transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan penunjang aktivitas kerja.

Pengamat Kebijakan Publik IDP-LP, Riko Noviantoro, menilai kelompok kelas menengah merupakan lapisan masyarakat yang paling rentan ketika biaya hidup meningkat.

“Begitu ada tekanan ekonomi, daya beli mereka langsung turun karena pendapatan dan pengeluaran sangat tipis selisihnya,” ujarnya.

Ia menyebut meningkatnya penggunaan pinjaman online menjadi indikator bahwa tekanan ekonomi masyarakat semakin nyata. Menurutnya, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mampu memangkas pengeluaran publik seperti transportasi murah, pendidikan terjangkau, dan layanan kesehatan yang lebih ringan.

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya juga menyinggung menyusutnya kelompok kelas menengah di tengah pertumbuhan ekonomi nasional yang terus berjalan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi seharusnya berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, bukan justru memperbesar tekanan hidup kelompok pekerja dan kelas menengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *