Jalan Tanggul Sriamur-Srimukti Dipenuhi Sampah, Warga Khawatir Makin Parah
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Tumpukan sampah rumah tangga memenuhi sisi Jalan Tanggul yang berada di perbatasan Desa Sriamur dan Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Kondisi tersebut dikeluhkan warga karena menimbulkan bau tidak sedap, membuat lingkungan tampak kumuh, hingga sebagian sampah masuk ke aliran kali.
Pantauan di lokasi pada Rabu (9/9/2026), berbagai jenis sampah terlihat berserakan di sepanjang tepian jalan. Sampah tersebut antara lain kantong plastik berisi limbah rumah tangga, kemasan makanan dan minuman, kardus, botol plastik, popok, karung, serta berbagai limbah lainnya.
Sebagian tumpukan bahkan terlihat berada di dekat hingga masuk ke kali. Kondisi tersebut membuat area sekitar tampak kotor dan dikhawatirkan mengganggu lingkungan.
Salah seorang warga, Asnah (42), mengaku risih dengan kondisi tersebut. Menurutnya, tumpukan sampah yang semakin melebar hingga mendekati badan jalan membuat kawasan terlihat kumuh dan mengganggu warga yang melintas.
“Ya, sebenarnya risih melihatnya. Sampahnya sudah numpuk ke jalan. Jadi terasa banget bau dan kumuhnya,” ujar Asnah, Rabu (9/9/2026).
Ia mengatakan, bau tidak sedap kerap tercium terutama ketika cuaca panas atau setelah tumpukan sampah terkena air hujan. Kondisi itu membuat warga maupun pengguna jalan tidak nyaman saat melintas.
“Kadang baru lewat saja sudah kecium baunya. Apalagi pas hujan. Sampahnya kan jadi basah, jadi baunya makin terasa,” katanya.
Asnah juga khawatir tumpukan sampah tersebut terus bertambah apabila tidak segera ditangani. Terlebih, Jalan Tanggul menjadi salah satu akses yang digunakan warga menuju jalan tol maupun sekolah.
“Takut sampahnya terus bertambah kalau enggak ada yang beresin. Harapannya bisa ada yang ditindak tegas juga,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Sidi (31). Ia menyebut tumpukan sampah di lokasi tersebut bukan merupakan kejadian pertama.
“Di sini sudah sering banget sampah menumpuk kayak gini. Ada sampah rumah tangga, plastik, macam-macam pokoknya,” kata Sidi.
Menurut Sidi, bau menjadi salah satu persoalan yang paling mengganggu, terutama ketika sampah telah lama menumpuk dan bercampur dengan air.
“Yang paling mengganggu itu baunya. Jadi bikin enggak nyaman kalau lewat,” ucapnya.
Selain persoalan bau, ia menilai tumpukan sampah juga berpotensi membahayakan pengguna jalan, khususnya saat hujan. Air yang bercampur dengan sampah dapat membuat permukaan jalan menjadi licin.
“Jadi harus hati-hati kalau lewat, apalagi kalau naik motor. Takut terpeleset,” jelasnya.
Sidi berharap sampah segera diangkut dan pengelolaan maupun pengangkutan sampah di kawasan tersebut dapat dilakukan secara rutin. Ia juga mengusulkan adanya tempat pembuangan sampah yang memadai agar warga tidak membuang sampah sembarangan.
“Kalau bisa disediakan tempat sampah atau lahan khusus biar mereka enggak buang di sini lagi,” katanya.
Sementara itu, warga lainnya, Astuti (40), mengaku prihatin dengan kondisi lingkungan tersebut. Ia menilai tumpukan sampah yang berada di sepanjang tepian jalan hingga mendekati kali membuat lingkungan menjadi tidak nyaman.
“Ini kan lingkungan kita juga, jadi kalau banyak sampah begini rasanya enggak nyaman. Apalagi sampahnya sampai di pinggir kali,” ujar Astuti.
Astuti juga khawatir keberadaan tumpukan sampah justru mendorong warga lain melakukan hal serupa. Menurutnya, lokasi yang sudah dipenuhi sampah berpotensi berubah menjadi tempat pembuangan sampah liar.
“Kalau sudah terbiasa ada sampah menumpuk, nanti orang lain ikut buang sampah di situ. Lama-lama jadi seperti tempat pembuangan sampah,” katanya.
Ia menyebut kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari enam bulan. Bahkan, sebagian sampah yang menumpuk disebut sempat dibakar oleh warga.
“Pokoknya tahu-tahu pagi sudah penuh sampahnya, enggak tahu siapa yang buang. Ini sebagian sudah ada yang dibakarin warga juga,” jelasnya.
Astuti berharap penanganan tidak berhenti pada kegiatan pengangkutan atau pembersihan sampah. Menurutnya, pengawasan juga diperlukan agar lokasi tersebut tidak kembali menjadi titik pembuangan sampah.
“Harapannya segera dibersihkan dan ada pengawasan juga. Jangan setelah dibersihkan, beberapa hari kemudian penuh lagi,” pungkasnya.
Sementara itu, upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Camat Tambun Utara Najmuddin dan Kepala Desa Srimukti Sandam Rinta untuk meminta keterangan terkait kondisi tumpukan sampah tersebut. Namun, hingga berita ini ditayangkan, belum ada informasi yang diperoleh dari keduanya.




Post Comment