Hampir Setahun Menunggu, 100 Peserta Magang Jepang Pemkot Bekasi Belum Dapat Kepastian
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Sebanyak 100 peserta program pemagangan ke Jepang yang digagas Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi masih menunggu kepastian terkait kelanjutan program, hampir satu tahun setelah proses seleksi dilakukan.
Para peserta mengaku hingga kini belum mendapatkan informasi yang jelas mengenai jadwal pelatihan bahasa, tahapan seleksi lanjutan, maupun kepastian waktu keberangkatan ke Jepang.
Program tersebut sebelumnya digagas Wali Kota Bekasi Tri Adhianto pada Oktober 2025 sebagai salah satu upaya membuka peluang kerja bagi anak muda sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di tingkat internasional.
Dari ribuan peserta yang mengikuti proses seleksi, sebanyak 100 orang dinyatakan terpilih untuk mengikuti program pemagangan tersebut.
Namun, setelah proses seleksi, para peserta mengaku masih menunggu informasi mengenai tahapan berikutnya dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Bekasi.
Salah satu peserta, Rizky, mengatakan dirinya telah mengikuti seluruh rangkaian seleksi dan memilih menunggu proses program tersebut. Namun, hingga Kamis (27/8/2026), belum ada kepastian mengenai kapan pelatihan akan dimulai.
“Kami sudah mengikuti seluruh proses seleksi resmi dan menunggu sejak tahun lalu. Kalau memang ada tahapan lanjutan, kami siap mengikuti penuh. Tapi tolong beri kami kejelasan,” ujar Rizky.
Menurutnya, ketidakjelasan tersebut membuat sebagian peserta kesulitan menentukan pilihan terkait pekerjaan. Ia mengaku sempat menolak sejumlah peluang kerja karena berharap segera mendapatkan panggilan untuk mengikuti pelatihan program pemagangan ke Jepang.
“Kami hanya ingin tahu kapan pelatihan dimulai dan bagaimana kepastiannya, agar kami tidak terus-menerus menolak kesempatan lain demi harapan kosong,” katanya.
Rizky memahami bahwa proses pemagangan ke luar negeri membutuhkan sejumlah tahapan, mulai dari pelatihan bahasa Jepang, persiapan administrasi, sertifikasi keterampilan hingga penyesuaian budaya dan ketentuan ketenagakerjaan di negara tujuan.
Namun, ia berharap Pemkot Bekasi memberikan informasi secara berkala kepada peserta mengenai perkembangan program tersebut.
“Kami mengerti ini butuh proses, tidak bisa hari ini lolos besok langsung terbang. Ada pelatihan bahasa dan administrasi. Tapi masalahnya, tidak ada informasi sama sekali yang mengalir ke kami,” ujarnya.
Ia berharap program tersebut tetap dilanjutkan dan para peserta mendapatkan kepastian mengenai tahapan yang harus dijalani.
Di sisi lain, Pemkot Bekasi sebelumnya aktif menjajaki kerja sama dengan sejumlah pemerintah daerah di Jepang. Salah satunya melalui rencana kerja sama dengan Kota Susaki dan Kota Izumisano.
Pada April 2026, Pemkot Bekasi juga menandatangani Letter of Intent (LoI) kerja sama Sister City dengan Pemerintah Kota Izumisano. Kerja sama tersebut mencakup sejumlah sektor, termasuk bidang ketenagakerjaan.
Dalam rangkaian kerja sama tersebut, Pemkot Bekasi juga melakukan kunjungan ke Jepang dan mendatangi sejumlah perusahaan yang berpotensi menjadi tempat penyerapan tenaga kerja Indonesia.
Kondisi tersebut membuat peserta program pemagangan berharap kerja sama internasional yang telah dibangun pemerintah daerah dapat berlanjut pada tahap implementasi, khususnya bagi mereka yang telah dinyatakan lolos seleksi.
Bagi para peserta, kepastian menjadi hal penting karena mereka telah meluangkan waktu untuk mengikuti proses seleksi dan menunggu kelanjutan program sejak 2025.
Selain memberikan kepastian mengenai status program, Pemkot Bekasi dinilai perlu menjelaskan tahapan yang harus ditempuh peserta, termasuk jadwal pelatihan, mekanisme seleksi lanjutan, lembaga pelatihan yang terlibat, serta mekanisme keberangkatan ke Jepang.
Hingga hampir satu tahun sejak proses seleksi dilakukan, para peserta masih menanti kejelasan apakah program pemagangan tersebut akan segera memasuki tahap pelatihan dan keberangkatan atau masih membutuhkan proses lanjutan.




Post Comment