Di Balik Bersihnya Jalan Kabupaten Bekasi, Ada Perjuangan Petugas Sampah Sejak Subuh
DAILYBEKASI.COM, CIKARANG PUSAT — Timbulan sampah di Kabupaten Bekasi mencapai sekitar 2.000 hingga 2.300 ton per hari. Di tengah pertumbuhan penduduk, kawasan industri, dan permukiman yang terus berkembang, puluhan petugas persampahan setiap hari bekerja sejak pagi untuk memastikan sampah dari lingkungan masyarakat dapat terangkut dan tidak menumpuk.
Berdasarkan Kabupaten Bekasi dalam Angka 2026, sekitar 3,4 juta jiwa kini tinggal dan beraktivitas di wilayah tersebut. Pertumbuhan penduduk dan pembangunan permukiman turut berdampak pada meningkatnya volume sampah yang harus ditangani setiap hari.
Salah satu wilayah yang menghadapi tantangan tersebut adalah Kecamatan Babelan. Wilayah ini berada dalam cakupan pelayanan UPTD Persampahan Wilayah I Babelan Utama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, yang meliputi Kecamatan Babelan, Tarumajaya, Cabangbungin, dan Muaragembong.
Pengawas UPTD Wilayah I Babelan Utama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bekasi, Saripudin, mengatakan pekerjaan menangani sampah tidak mudah. Selain mengangkut sampah dari permukiman, petugas juga harus memastikan pelayanan tetap berjalan di tengah keterbatasan armada maupun sumber daya manusia.
“Sudah sangat berbeda ya dulu dengan sekarang. Terutama pertambahan penduduk yang dulunya area persawahan di Kecamatan Babelan dan Tarumajaya banyak berubah jadi perumahan. Dampaknya kemudian bertambahnya volume sampah, dan tidak jarang terjadinya banjir,” ujar Saripudin.
Di Kecamatan Babelan, Saripudin bersama puluhan petugas menjalankan pelayanan persampahan setiap hari. Mereka terdiri dari sopir, kru pengangkut sampah, hingga pesapon yang bertugas membersihkan sampah di jalan dan lingkungan masyarakat.
Secara keseluruhan, terdapat 28 armada yang digunakan untuk melayani masyarakat dengan cakupan sekitar 32 ribu keluarga. Dalam satu kali pengangkutan, satu truk dapat membawa sekitar 4 hingga 5 ton sampah.
Sampah yang dikumpulkan kemudian dibawa menuju TPA Burangkeng di Kecamatan Setu.
Namun, pekerjaan para petugas tidak berhenti pada mengangkut sampah dari rumah warga. Mereka juga harus memantau keberadaan tempat pembuangan sampah liar, termasuk sampah yang berada di sepanjang jalur Daerah Aliran Sungai (DAS).
Masih adanya masyarakat yang membuang sampah sembarangan menjadi salah satu persoalan yang terus dihadapi di lapangan.
“Kalau di lapangan kami menghadapi juga bagaimana saat ada mobil yang rusak, kurangnya tim karena sakit. Makanya tugas saya mengkomunikasikan ke masyarakat bila terjadi kendala-kendala teknis lapangan ini. Keluhan dari warga juga jadi motivasi buat kami untuk terus memperbaiki pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Selain kerusakan armada dan keterbatasan petugas, kondisi cuaca, kemacetan, hingga akses jalan yang sempit juga menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, Saripudin mengatakan komunikasi dengan masyarakat sejauh ini terjalin dengan baik. Dukungan dari tokoh masyarakat dan warga menjadi salah satu hal yang membuat petugas tetap bersemangat menjalankan pekerjaan.
“Alhamdulillah sampai saat ini komunikasi antara kami dan para tokoh di perumahan terjalin bagus. Kepercayaan masyarakat inilah yang membuat kami merasa berbesar hati mengurus sampah,” ucapnya.
Berangkat Sejak Subuh
Cerita perjuangan petugas persampahan juga datang dari balik kemudi truk pengangkut sampah.
Dasim (26), salah seorang sopir armada pengangkut sampah di wilayah Babelan, telah menjalani pekerjaan tersebut sejak 2018. Ia mengawali pekerjaannya sebagai kru pengangkut sampah sebelum kemudian dipercaya menjadi sopir.
Setiap hari, Dasim bersama kru berangkat sejak subuh untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah warga.
“Setiap hari saya bersama kru pengangkut sampah membawanya ke TPA Burangkeng. Saya berangkat subuh. Kemudian targetnya jam 1 siang harus sudah berangkat ke TPA Burangkeng. Kira-kira 8-9 jam kami bekerja sehari-harinya,” terang Dasim.
Pekerjaan tersebut harus tetap dilakukan meskipun cuaca tidak bersahabat. Hujan maupun panas tidak menghentikan aktivitas pengangkutan sampah.
Risiko pekerjaan juga tidak kecil. Petugas dapat mengalami luka akibat benda tajam yang tercampur di dalam sampah, seperti pecahan kaca hingga ranting pohon.
Kesulitan lain muncul ketika truk harus memasuki gang-gang perumahan yang sempit. Kendaraan yang terparkir di depan rumah warga terkadang membuat truk tidak dapat langsung mencapai titik pengangkutan.
“Kalau sudah begitu, ya kita terpaksa memutar mencari jalan yang tidak ada kendaraan di depan rumah warga,” tuturnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, Dasim mengatakan masih banyak warga yang memberikan perhatian kepada petugas kebersihan. Ada warga yang memberikan air minum, makanan, hingga sekadar menyapa ketika mereka sedang bekerja.
“Alhamdulillah banyak yang baik kepada petugas kebersihan,” katanya.
Kritik Menjadi Bagian dari Pelayanan
Di sisi lain, petugas juga terkadang menerima keluhan dari masyarakat ketika pengangkutan sampah mengalami keterlambatan atau kendala.
Dasim memahami bahwa masyarakat menginginkan lingkungan tempat tinggalnya tetap bersih. Karena itu, kritik yang disampaikan warga diterimanya sebagai bagian dari pekerjaan.
Ia juga berusaha meminta maaf apabila pelayanan pengangkutan sampah mengalami kendala yang membuat masyarakat tidak nyaman.
Bagi Dasim, salah satu hal yang membuatnya semakin bersyukur adalah statusnya yang kini telah diakui Pemerintah Kabupaten Bekasi sebagai ASN PPPK.
Status tersebut justru menjadi dorongan baginya untuk bekerja lebih giat.
Menurutnya, kepuasan terbesar dari pekerjaan tersebut adalah ketika wilayah yang menjadi tanggung jawabnya kembali bersih dan tidak ada keluhan dari masyarakat.
“Rasanya kalau sudah bersih sangat lega ya. Apalagi sudah tidak ada komplen masyarakat,” tuturnya.
Bagi masyarakat, sampah mungkin hanya perlu dikeluarkan dari depan rumah. Namun bagi petugas, sampah tersebut harus diangkat, dipindahkan, dimuat ke dalam truk, dibawa melintasi jalan, hingga akhirnya diturunkan di TPA Burangkeng.
Pekerjaan tersebut dilakukan setiap hari agar lingkungan tempat masyarakat tinggal tetap bersih dan nyaman.
Butuh Dukungan dan Kesadaran Masyarakat
Saripudin berharap ke depan dukungan terhadap pelayanan persampahan dapat semakin meningkat, termasuk dari sisi sumber daya. Hal tersebut dinilai penting karena pembangunan permukiman baru terus berkembang dan membuat wilayah pelayanan semakin luas.
“Saya berharap semoga ke depan juga sumber daya kami bisa bertambah sehingga dapat lebih maksimal dalam melayani masyarakat. Karena sampai saat ini masih ada pengembangan perumahan-perumahan baru dan itu tentunya berpengaruh pada daya jangkau tim kami,” ujarnya.
Ia juga berharap pembuangan sampah liar dapat ditangani lebih tegas melalui aturan yang mampu memberikan efek jera kepada masyarakat yang masih membuang atau menumpuk sampah di lokasi yang tidak semestinya.
Menurut Saripudin, menjaga kebersihan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas persampahan. Masyarakat memiliki peran penting, terutama dalam mengelola dan membuang sampah sejak dari sumbernya.
“Mari warga Kabupaten Bekasi bersama jaga lingkungan kita. Pelihara lingkungan kita. Karena peduli terhadap lingkungan menghindari kita dari dampak banjir, penyakit dan seterusnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Dasim berharap masyarakat tidak memandang rendah pekerjaan para petugas pengangkut sampah. Sebab, setiap hari mereka bekerja menangani sampah yang dihasilkan masyarakat agar tidak menjadi persoalan yang lebih besar bagi lingkungan.
“Semoga warga tidak memandang rendah kami sebagai petugas pengangkut sampah ya. Karena kami berupaya menjaga kebersihan dari sampah yang dihasilkan masyarakat juga,” pungkasnya.
Di balik jalan yang kembali bersih, sampah yang terangkut dari depan rumah, dan lingkungan yang terasa lebih nyaman, terdapat pekerjaan yang dimulai sejak sebagian warga masih terlelap.
Panas, hujan, kemacetan, gang sempit, bau menyengat, hingga risiko benda tajam menjadi bagian dari keseharian mereka.
Sampah dihasilkan masyarakat setiap hari. Dan setiap hari pula, ada petugas yang bekerja untuk memastikan sampah tersebut tidak berakhir menjadi persoalan lingkungan.




Post Comment