Rabu, Mei 27, 2026
EkonomiPemerintahanSosial

Polling Media Sosial Ungkap Keluhan Warga soal Ekonomi dan Sulitnya Cari Kerja

DAILYBEKASI.COM, JAKARTA — Kondisi perekonomian Indonesia dinilai tengah menghadapi tekanan serius. Hal itu tercermin dari hasil polling yang digelar Indo Satu Media Grup melalui Instagram dan TikTok pada 18 hingga 21 Mei 2026. Mayoritas responden menilai kondisi ekonomi nasional saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Berbagai keluhan muncul dalam polling tersebut, mulai dari sulitnya mencari pekerjaan, melemahnya daya beli masyarakat, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai hasil polling tersebut menjadi sinyal penting yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Menurutnya, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ketika masyarakat merasa kondisi ekonomi memburuk, maka konsumsi rumah tangga, tingkat kepercayaan publik, hingga aktivitas ekonomi secara keseluruhan dapat ikut terdampak.

“Dalam ekonomi modern, psikologi publik sangat menentukan arah pertumbuhan ekonomi. Ketika masyarakat mulai pesimistis, mereka cenderung menahan belanja dan lebih berhati-hati mengeluarkan uang,” ujar Ronny, Senin (25/5).

Ia menjelaskan, meskipun ekonomi Indonesia masih mencatat pertumbuhan secara makro, banyak masyarakat belum merasakan dampak positifnya secara langsung. Pendapatan yang diterima dinilai belum mampu mengejar laju kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan jurang antara data pertumbuhan ekonomi nasional dengan realitas yang dirasakan masyarakat di lapangan.

“Pertumbuhan ekonomi memang ada, tetapi kualitas pertumbuhannya sedang mengalami tekanan. Karena itu masyarakat merasa kehidupan ekonomi mereka belum membaik,” katanya.

Selain daya beli, persoalan lapangan pekerjaan juga disebut menjadi sumber keresahan terbesar masyarakat saat ini. Ronny menilai tantangan Indonesia bukan hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga menghadirkan pekerjaan yang layak, stabil, dan mampu memberikan kepastian penghasilan.

Ia menyebut sebagian besar pekerjaan baru masih didominasi sektor informal dengan penghasilan rendah dan minim jaminan masa depan. Kondisi tersebut paling dirasakan generasi muda dan lulusan baru yang menghadapi persaingan kerja semakin ketat.

“Anak muda sekarang menghadapi tekanan yang cukup berat karena persaingan kerja semakin tinggi sementara kesempatan kerja formal belum tumbuh secepat kebutuhan,” jelasnya.

Ronny juga menyoroti dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat. Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku, energi, hingga pangan tertentu membuat pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi.

Akibatnya, harga barang dan jasa ikut meningkat sehingga semakin menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Industri yang masih bergantung pada bahan impor juga menghadapi kenaikan biaya operasional yang berpotensi memicu pengurangan perekrutan tenaga kerja hingga langkah efisiensi perusahaan.

“Tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat saat ini datang dari dua arah sekaligus, yakni biaya hidup yang meningkat dan peluang kerja yang semakin sulit,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga kebutuhan pokok dipengaruhi berbagai faktor, baik domestik maupun global. Dari dalam negeri, distribusi, biaya logistik, dan gangguan pasokan pangan menjadi pemicu utama. Sementara secara global, ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, serta tingginya harga energi turut memberi tekanan terhadap perekonomian nasional.

Ronny menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan publik. Ia mendorong pemerintah menjaga stabilitas harga pangan, memperluas program padat karya, memperkuat sektor UMKM, serta menciptakan iklim investasi yang mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

“Stabilitas harga dan tersedianya lapangan kerja adalah fondasi utama optimisme masyarakat terhadap ekonomi,” katanya.

Meski demikian, Ronny menegaskan kondisi ekonomi Indonesia saat ini belum masuk kategori krisis. Namun ia mengingatkan tekanan terhadap daya beli masyarakat, stabilitas rupiah, dan penciptaan lapangan kerja harus segera diantisipasi agar keresahan publik tidak semakin meluas.

Ia juga mengimbau masyarakat tetap tenang namun realistis menghadapi situasi ekonomi saat ini dengan mengelola pengeluaran secara bijak, memperkuat tabungan darurat, serta meningkatkan keterampilan agar lebih siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi dan pasar kerja.

“Hasil polling media sosial memang bukan survei ilmiah nasional, tetapi bisa menjadi early warning terhadap sentimen publik yang sedang berkembang di masyarakat,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *