Rabu, Juni 10, 2026
EkonomiPemerintahanSosial

Harga Pertamax Naik 32 Persen, Warga Khawatir Tarif Transportasi dan Harga Sembako Ikut Melonjak

DAILYBEKASI.COM, KABUPATEN BEKASI — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang berlaku mulai 10 Juni 2026 pukul 00.00 WIB memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Lonjakan harga yang mencapai lebih dari 32 persen dinilai berpotensi meningkatkan biaya transportasi, harga kebutuhan pokok, hingga menekan daya beli masyarakat.

Berdasarkan informasi yang beredar, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 turut mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Di sisi lain, harga Pertamax Turbo tetap bertahan di angka Rp20.750 per liter. Adapun Pertamina Dex tidak mengalami perubahan dan masih dijual seharga Rp24.800 per liter.
Ketua Pemuda ICMI Kabupaten Bekasi, Aboy Maulana, menilai kenaikan harga Pertamax kali ini tergolong signifikan karena mencapai sekitar Rp3.950 per liter atau 32,1 persen dibandingkan harga sebelumnya.

“Kalau benar naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, dampaknya cukup besar. Biaya operasional kendaraan meningkat, tarif transportasi berpotensi naik, kemudian harga kebutuhan pokok juga bisa ikut terdorong naik karena biaya distribusi bertambah,” ujar Aboy, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, dampak kenaikan BBM nonsubsidi tidak hanya dirasakan pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga pelaku usaha dan sektor transportasi secara umum.

Kondisi tersebut juga berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap daya beli masyarakat yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
Aboy menambahkan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berisiko terdampak akibat meningkatnya biaya produksi maupun distribusi.

“UMKM juga bisa ikut terdampak karena biaya produksi dan distribusi meningkat. Kemungkinan lainnya, masyarakat akan beralih menggunakan Pertalite atau mulai mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai alternatif,” katanya.

Sementara itu, kalangan pengemudi ojek online mengaku lebih mengkhawatirkan kemungkinan kenaikan BBM bersubsidi dibandingkan kenaikan Pertamax. Pasalnya, sebagian besar pengemudi roda dua masih mengandalkan Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

“Yang penting jangan sampai Pertalite yang naik. Kalau Pertalite ikut naik, pasti berat buat kami yang setiap hari cari nafkah di jalan,” ujar Suherman (40), seorang pengemudi ojek online.

Kekhawatiran serupa disampaikan Yanti, seorang buruh perempuan di Cikarang Selatan. Ia memperkirakan kenaikan harga Pertamax akan mendorong sebagian masyarakat beralih ke Pertalite sehingga antrean di SPBU menjadi lebih panjang.

“Kalau Pertamax mahal, pasti banyak yang pindah ke Pertalite. Antriannya bisa makin panjang setiap hari,” katanya.

Yanti yang telah merantau dan bekerja di Cikarang selama tiga tahun itu berharap kenaikan harga BBM tidak merembet ke BBM bersubsidi yang selama ini menjadi penopang kebutuhan pekerja, buruh, dan pengemudi transportasi daring.

“Pertamax naik memang terasa, tapi yang paling ditakutkan masyarakat kecil kayak kami adalah ketika suatu saat Pertalite ikut menyusul naik,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *