Bekasi Latih 50 Nelayan Gunakan GPS untuk Keselamatan Melaut
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi melatih 50 nelayan di Kecamatan Tarumajaya menggunakan Global Positioning System (GPS) dan informasi cuaca untuk meningkatkan keselamatan saat melaut. Pelatihan ini juga bertujuan membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan ikan, mengantisipasi cuaca buruk, serta menekan biaya operasional.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor Kecamatan Tarumajaya pada Selasa (27/10/2026) tersebut membekali nelayan dengan pengetahuan navigasi dan pemanfaatan informasi meteorologi. Pelatihan ini membantu peserta menentukan koordinat, mengenali daerah penangkapan ikan (fishing ground), serta memeriksa kondisi perairan sebelum melaut.
Ketua Tim Pemberdayaan Nelayan Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi, Tasim Suryadi, mengatakan pemanfaatan teknologi dapat membantu nelayan meningkatkan keselamatan dan efisiensi kegiatan penangkapan ikan.
“Harapannya, nelayan kita mulai melek teknologi dan mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Selain itu, ada aspek mitigasi dan navigasi, sehingga nelayan bisa mengetahui posisi koordinatnya serta memahami kondisi alam sebelum melaut,” ujar Tasim.
Dalam kegiatan tersebut, Dinas Perikanan menghadirkan Andi Cahyadi dari Stasiun Meteorologi Kelas I BMKG Tanjung Priok serta koordinator penyuluh yang berpengalaman dalam pelatihan GPS dan navigasi bagi nelayan.
Pelatihan GPS Bekasi Bekali Nelayan Informasi Cuaca
Selain mempelajari navigasi, peserta pelatihan GPS di Bekasi juga mendapat materi tentang pemanfaatan informasi cuaca sebelum melaut. Pengetahuan ini membantu nelayan mempertimbangkan tinggi gelombang, kecepatan angin, arus laut, dan potensi hujan sebelum menentukan waktu keberangkatan.
Tasim menjelaskan, nelayan dapat memanfaatkan aplikasi dan layanan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau prakiraan cuaca. Informasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama ketika kondisi angin dan gelombang berpotensi membahayakan aktivitas di laut.
“Dari informasi BMKG, nelayan setidaknya bisa mempelajari data gelombang, kecepatan arus, kecepatan angin, serta prediksi hujan untuk beberapa hari ke depan. Harapannya, sebelum memutuskan melaut, mereka sudah bisa mempertimbangkan kondisi cuaca dan risiko yang mungkin dihadapi,” katanya.
Dengan memahami informasi tersebut, nelayan diharapkan lebih siap menghadapi perubahan cuaca. Mereka juga dapat mempertimbangkan untuk menunda keberangkatan apabila kondisi perairan tidak aman.
GPS Bantu Nelayan Bekasi Efisienkan Biaya Operasional
Penggunaan GPS juga berpotensi membantu nelayan merencanakan perjalanan menuju lokasi penangkapan ikan secara lebih terarah. Selama ini, sebagian nelayan masih mengandalkan pengalaman dan insting untuk menentukan lokasi mencari ikan.
Menurut Tasim, teknologi navigasi dapat melengkapi pengalaman nelayan dalam menentukan posisi dan merencanakan perjalanan. Dengan perencanaan yang lebih baik, nelayan dapat mencari ikan lebih cepat sekaligus menghemat bahan bakar.
Selain itu, pemanfaatan teknologi tidak selalu membutuhkan perangkat mahal. Nelayan dapat menggunakan telepon seluler yang mendukung GPS untuk membantu navigasi, serta mengakses informasi cuaca melalui aplikasi yang tersedia.
“Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia, kami berharap nelayan memiliki perencanaan operasional penangkapan ikan yang lebih baik. Harapannya, waktu penangkapan lebih efisien, penggunaan bahan bakar lebih hemat, dan hasil tangkapan bisa sesuai target, dengan tetap mengutamakan keselamatan,” ungkapnya.
Meski demikian, penggunaan GPS perlu diimbangi dengan pemahaman navigasi dan pemantauan cuaca secara berkala. Teknologi tersebut membantu menentukan posisi, tetapi tidak menggantikan kebutuhan nelayan untuk memperhatikan kondisi perairan dan perlengkapan keselamatan.
Dinas Perikanan Bekasi Pertimbangkan Muaragembong
Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi membuka peluang untuk menggelar pelatihan serupa di wilayah pesisir lainnya. Tasim menyebut Kecamatan Muaragembong sebagai salah satu wilayah yang dipertimbangkan karena memiliki jumlah nelayan yang besar.
Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi yang disampaikan Tasim, jumlah nelayan di Kabupaten Bekasi mencapai 4.073 orang. Sekitar 75 persen di antaranya berada di Kecamatan Muaragembong, sedangkan 20 persen lainnya berada di Kecamatan Tarumajaya. Sisanya tersebar di Kecamatan Babelan dan Cabangbungin.
Besarnya jumlah nelayan di wilayah pesisir tersebut menjadi pertimbangan untuk memperluas edukasi mengenai navigasi, keselamatan melaut, dan pemanfaatan informasi cuaca.
Melalui pelatihan ini, Dinas Perikanan Kabupaten Bekasi berharap nelayan semakin terampil menggunakan teknologi untuk mendukung kegiatan penangkapan ikan. Dengan pengetahuan tersebut, nelayan dapat merencanakan perjalanan secara lebih efektif dan mengantisipasi risiko selama melaut.
“Prinsipnya, nelayan kita harus selamat dan sejahtera. Selamat secara fisik dan sejahtera secara ekonomi,” tutup Tasim.



Post Comment