JAYA OKB: Jatuh Bangun Bisnis — In This Economy

HIPMI Jaya menggelar forum JAYA OKB tentang strategi bisnis

DAILYBEKASI.COM, JAKARTA – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jaya menggelar JAYA OKB (Obrolan Keuangan & Bisnis), forum diskusi strategi bisnis di tengah dinamika ekonomi, pada Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 16.00–20.00 WIB di .TEMU Coffee, Dharmawangsa, Jakarta Selatan. Kegiatan yang diselenggarakan melalui HIPMI Jaya Capital Market & IPO bersama HIPMI Jakarta Timur ini mempertemukan lebih dari 70 peserta dari kalangan pelaku usaha dan profesional.

Mengangkat tema “Jatuh Bangun Bisnis: In This Economy”, forum ini menjadi ruang bertukar pengalaman mengenai tantangan arus kas, pendanaan, ketidakpastian pasar, serta ketahanan usaha. Pembahasan dibangun melalui tiga pendekatan: Understanding the Economy, Managing Risk, dan Building Resilience.

Literasi Keuangan dan Peluang Bisnis

Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, M. Riandy Haroen, menekankan pentingnya forum untuk memperkaya literasi keuangan para pengusaha. “Forum seperti ini penting untuk memperkaya literasi keuangan dari senior-senior BPD HIPMI Jaya, seperti Bang Ache, yang berhasil meraih funding dalam kondisi market seperti ini,” ujarnya.

Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Timur, Dhimas Pringgo, mengajak pengusaha untuk tetap cermat membaca peluang. “Sebagai pengusaha, kita harus memikirkan sektor usaha apa yang tetap profitable di tengah kondisi global seperti sekarang,” katanya.

Ketua Panitia JAYA OKB, Dharmawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri lebih dari 70 orang, mencerminkan antusiasme terhadap pembahasan yang dekat dengan kebutuhan dunia usaha.

Empat perspektif strategis

Dipandu Neni Zunaini, Wabendum Bidang IV HIPMI Jaya, diskusi membahas arah ekonomi global, akses perbankan dan pembiayaan, prospek sektor usaha, serta aspek hukum ketika bisnis menghadapi risiko gagal bayar.

Karaeng Raja Adjie, Ketua Basnom HIPMI Jaya Capital Market & IPO, menyoroti dampak geopolitik terhadap harga dan daya beli. “Harga minyak sudah naik hampir dua kali lipat sejak perang dimulai. Imbasnya, harga barang ikut naik dan daya beli masyarakat menurun,” ujarnya.

Diatche Gunungtua Harahap, CEO .TEMU Cafe, membagikan pengalaman mencari pendanaan di tengah kondisi pasar yang menantang. “Sebagai pengusaha, kita juga harus kreatif dalam mencari pendanaan. Yang jelas, semua itu harus dilandasi konsep dan perhitungan yang matang, serta brand identity yang bagus sebagai pengusaha,” katanya.

Ilyasa Dahlan, Direktur Utama Duasisi Authorized Money Changer, membahas kerangka pengambilan keputusan keuangan: prioritas kas versus pertumbuhan, penggunaan fasilitas pinjaman, dan risiko ketidaksesuaian mata uang antara utang valuta asing dan pendapatan rupiah. “Sebelum mengambil pinjaman dalam valuta asing, lakukan analisis yang mendalam, terutama jika pendapatan usaha dalam bentuk rupiah. Saat rupiah melemah, kita bisa terkena double interest: satu dari bunga bank, satu lagi dari selisih kenaikan kurs,” jelasnya.

Dari perspektif hukum, Roberth Aritonang, S.H., LL.M., CTLC, Partner Infinitum Law Office, membahas risiko gagal bayar dan penyelesaian kewajiban bisnis. “Pengusaha perlu berhati-hati dalam memberi respons di tengah badai ekonomi global. Sebenarnya, lebih baik memilih PKPU atau kepailitan guna mendapat perisai hukum,” tuturnya.

Post Comment