JPO di Jalan Sultan Agung Bekasi Memprihatinkan, Tangga Licin dan Kabel Menjuntai
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Kondisi Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di Jalan Sultan Agung, Kelurahan Kranji, Kecamatan Bekasi Barat, Kota Bekasi, tepatnya di depan Naga Swalayan, dikeluhkan warga. Sejumlah bagian JPO terlihat kurang terawat, mulai dari tangga yang curam dan licin hingga kabel yang menjuntai dan tampak semrawut.
Pantauan di lokasi, Selasa (8/9/2026), anak tangga menuju JPO terlihat terbuka tanpa penutup. Kondisi tersebut membuat pengguna harus menaiki tangga dalam keadaan terbuka. Sejumlah kabel juga terlihat berada di sekitar JPO dengan posisi menjuntai dan saling tumpang tindih.
Kondisi tersebut menjadi perhatian warga, terutama pengguna lanjut usia (lansia). Salah seorang warga, Ismandi (64), mengatakan tangga JPO cukup melelahkan bagi warga seusianya karena jumlah anak tangga yang banyak.
“Kalau orang tua kayak saya kerasa banget, ya, capeknya terutama di dengkul dan napas,” ujar Ismandi saat ditemui di lokasi, Selasa (8/9/2026).
Selain tangga, Ismandi menyoroti keberadaan kabel yang berada di sekitar JPO. Ia khawatir kabel yang terlihat semrawut tersebut dapat menimbulkan risiko bagi pengguna.
“Ngeri juga karena banyak kabel semrawut, ya. Takutnya kalau lama-lama bisa berisiko atau berakibat fatal,” katanya.
Menurut Ismandi, keberadaan JPO tersebut sebenarnya sangat penting karena Jalan Sultan Agung merupakan kawasan yang ramai dilalui kendaraan. Terlebih, terdapat stasiun di sekitar lokasi sehingga aktivitas masyarakat cukup tinggi.
“Memang agak repot, apalagi kalau menyeberang di bawah. Itu agak riskan, terutama sore hari karena macet,” ujarnya.
Ia berharap kondisi JPO dapat diperbarui agar lebih nyaman dan aman digunakan masyarakat, seperti sejumlah JPO yang telah diperbaiki di Jakarta.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Sholehah (60). Ia mengaku kesulitan menaiki tangga JPO karena kondisi fisiknya yang sudah tidak sekuat sebelumnya.
“Naik JPO di sini enggak enak, mungkin karena saya sudah tua. Sudah enggak kuat. Makanya ngos-ngosan dan harus berhenti dulu,” kata Sholehah.
Sholehah mengaku sebenarnya lebih nyaman menyeberang melalui jalan di bawah JPO. Namun, padatnya arus lalu lintas dan kendaraan besar yang melintas membuatnya merasa khawatir.
Ia bahkan terkadang memilih mencari lokasi penyeberangan lain karena jarak yang dirasakannya cukup jauh.
“Saya kadang-kadang lewat sini. Kalau mau menyeberang ke sana, kadang terasa jauh, jadi malas,” ujarnya.
Menurut Sholehah, kondisi anak tangga juga terasa licin, khususnya ketika pengguna mengenakan alas kaki yang sudah tidak memiliki daya cengkeram baik.
“JPO-nya agak licin, apalagi kalau sandalnya sudah botak. Saya takut kepeleset. Pegangannya juga harus kencang karena takut jatuh,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan kabel yang menjuntai di sekitar JPO. Sholehah takut kabel tersebut dapat membahayakan pengguna apabila tersentuh secara tidak sengaja.
“Takut kalau pegangan malah kesetrum. Kan sering orang kesetrum-setrum begitu, ya,” ujarnya.
Sholehah berharap pemerintah maupun pihak yang bertanggung jawab segera melakukan perbaikan dan penataan terhadap JPO tersebut.
“Kalau bisa diperbaiki, biar jadi bagus dan dirapikan. Ngeri, takutnya kesetrum kalau pegangan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemanfaatan Ruang Jalan dan Taman Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi, Ronald Achyar, mengatakan JPO tersebut bukan merupakan aset milik Pemerintah Kota Bekasi.
“Itu JPO-nya milik swasta. Bukan kepemilikan pemerintah,” kata Ronald.
Meski demikian, Ronald memastikan Pemkot Bekasi telah memanggil pihak terkait untuk melakukan perapihan dan perbaikan terhadap JPO tersebut.
“Kami sudah melakukan pemanggilan terhadap pihak terkait untuk melakukan perapihan dan perbaikan,” pungkasnya.




Post Comment