Minggu, Juli 5, 2026
PemerintahanPendidikan

SPMB 2026 Dinilai Lebih Mudah, Survei Ungkap Tantangan Pada Kuota Dan Zonasi Domisili

DAILYBEKASI.COM, BEKASI – Mayoritas orang tua murid menilai pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 mudah dipahami. Hal itu terungkap dalam survei Lembaga KedaiKOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) yang menunjukkan 74,4 persen responden mengaku tidak mengalami kesulitan berarti selama mengikuti proses pendaftaran.

Survei tersebut melibatkan 585 orang tua atau wali murid yang mengikuti SPMB 2026. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan metode Computer Assisted Self Interview (CASI) setelah pelaksanaan SPMB dimulai pada Juni 2026.

Head of Research Lembaga KedaiKOPI, Ashma Nur Afifah, mengatakan persepsi kemudahan lebih banyak dirasakan oleh responden yang memiliki tingkat pendidikan menengah hingga perguruan tinggi. Sebaliknya, orang tua dengan tingkat pendidikan lebih rendah masih menghadapi berbagai kendala dalam proses pendaftaran.

“Hasil survei menunjukkan 42,1 persen responden dari kelompok pendidikan rendah mengaku proses pendaftaran SPMB masih terasa sulit,” ujar Ashma.

Menurut hasil survei, alasan utama masyarakat menilai SPMB 2026 mudah dipahami adalah alur pendaftaran yang sederhana dan mudah dimengerti dengan persentase 38,9 persen. Selain itu, sebanyak 33,6 persen responden menilai informasi dan jadwal pendaftaran sudah jelas serta mudah diakses melalui situs resmi.

Sebanyak 30,8 persen responden juga mengapresiasi sistem pendaftaran secara daring yang dinilai membuat proses menjadi lebih praktis. Kemudahan lain yang dirasakan antara lain tidak perlu datang langsung ke sekolah (19,1 persen), fleksibilitas mengakses layanan melalui telepon genggam atau dari rumah (16,1 persen), hingga persyaratan yang dianggap mudah dipenuhi (14,5 persen).

Meski demikian, survei juga menemukan masih adanya sejumlah informasi yang sulit dipahami masyarakat. Ashma menyebut persoalan tersebut didominasi aspek teknis dalam pelaksanaan SPMB.

“Sebanyak 33,7 persen responden mengaku bingung mengenai pembagian kuota pada masing-masing jalur. Selain itu, masih banyak yang belum memahami bagaimana sekolah menghitung jarak rumah ke sekolah secara tepat,” jelasnya.

Rincian survei menunjukkan informasi mengenai kuota tiap jalur menjadi hal yang paling sulit dipahami dengan persentase 33,7 persen, disusul cara menghitung jarak rumah ke sekolah sebesar 33 persen, penentuan wilayah domisili 30,8 persen, serta mekanisme pengaduan atau sanggah sebesar 28 persen.

Selain itu, sebagian responden juga mengaku masih mengalami kesulitan memahami proses pendaftaran melalui sistem daring (19,7 persen), perbedaan jalur domisili, afirmasi, prestasi, dan mutasi (16,8 persen), serta cara memantau hasil seleksi (14,5 persen).

Di sisi lain, sebanyak 21,4 persen responden menyatakan tidak mengalami kendala dalam memahami informasi yang tersedia selama pelaksanaan SPMB 2026.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa digitalisasi sistem penerimaan murid baru dinilai telah mempermudah proses pendaftaran bagi sebagian besar masyarakat. Namun, penyederhanaan informasi terkait kuota, jalur penerimaan, serta mekanisme penentuan domisili masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian agar pelaksanaan SPMB semakin mudah dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *