Bantargebang Masuk Sorotan Dunia, Emisi Metana Disebut Kian Tak Terkendali
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi, disebut menjadi penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia dari sektor limbah. Kondisi tersebut dinilai memperparah ancaman perubahan iklim global sekaligus meningkatkan risiko kebakaran besar di area tempat pembuangan akhir (TPA).
Forum Koalisi Aktivis untuk Darurat Sampah (Forkads) menilai penanganan persoalan sampah di Bantargebang hingga kini belum menunjukkan langkah konkret. Aktivis menyoroti respons Pemerintah Kota Bekasi maupun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang dianggap hanya sebatas retorika dan pencitraan di tengah sorotan publik.
Koordinator Forkads, Syahrul E Dasopang, mengatakan keriuhan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Sampah DPRD DKI Jakarta maupun aktivitas pemerintah di lapangan dinilai hanya bersifat sementara saat isu sedang ramai diperbincangkan.
“Demikianlah selalu dalam setiap masalah, tidak benar-benar diniatkan untuk mengakhiri masalah, tapi berkelok-kelok menjadi pertaruhan kepentingan ekonomi dan bisnis,” ujar Syahrul, Senin (25/05/2026).
Menurutnya, keterlambatan penanganan darurat sampah di Bantargebang juga diduga berkaitan dengan tarik ulur kepentingan proyek, termasuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Ia menilai sejumlah pihak lebih fokus pada potensi keuntungan ekonomi dibanding penyelesaian masalah lingkungan secara menyeluruh.
Di sisi lain, kondisi tumpukan sampah di Bantargebang disebut masih menggunung tanpa pengurangan signifikan. Aktivitas alat berat seperti eskavator dan buldozer memang terlihat di lokasi, namun dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan hilirisasi sampah secara tuntas.
Forkads juga menyoroti ancaman gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik. Gas tersebut memiliki efek pemanasan global yang lebih kuat dibanding karbon dioksida dalam jangka pendek.
Selain mempercepat perubahan iklim, penumpukan metana dalam jumlah besar juga dinilai sangat rentan memicu kebakaran di area TPA. Kondisi itu dikhawatirkan membahayakan warga sekitar serta memperburuk kualitas udara di wilayah Bekasi.
Meski isu emisi metana Bantargebang telah menjadi perhatian internasional, aktivitas pemulung dan pengepul limbah di lokasi masih berlangsung seperti biasa di tengah gunungan sampah yang terus bertambah.
Forkads khawatir perhatian pemerintah terhadap persoalan sampah Bantargebang hanya bersifat sementara. Setelah isu mereda, masyarakat Bekasi dinilai berpotensi kembali menghadapi ancaman lingkungan yang semakin serius tanpa solusi nyata dari pemerintah.

