100 Hari Tragedi Bekasi Timur, Keluarga Korban Kembali ke Lokasi dan Tuntut Kejelasan
DAILYBEKASI.COM, BEKASI — Puluhan keluarga korban kecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek kembali mendatangi lokasi tragedi di Stasiun Bekasi Timur, Jumat (7/8/2026). Kedatangan mereka bertepatan dengan 100 hari sejak kecelakaan yang menewaskan 16 orang tersebut.
Keluarga korban menggelar pengajian, pembacaan Yasin dan tahlil, doa bersama, hingga tabur bunga di sisi rel sebagai bentuk penghormatan kepada anggota keluarga yang meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Suasana haru terasa saat doa bersama berlangsung di bawah tangga naik stasiun. Sejumlah keluarga tampak menundukkan kepala sambil menggenggam buku doa. Beberapa di antaranya tak kuasa menahan air mata ketika menatap lokasi yang menjadi tempat terakhir orang-orang yang mereka cintai.
Sebagian keluarga bahkan berdiri cukup lama di sisi rel tanpa mengucapkan sepatah kata.
Namun, bagi keluarga korban, peringatan 100 hari tersebut bukan hanya momentum untuk mengenang anggota keluarga yang telah pergi. Mereka juga kembali menyuarakan tuntutan agar penanganan pascakecelakaan dilakukan secara transparan dan seluruh tanggung jawab kepada keluarga korban segera dituntaskan.
Perwakilan Paguyuban Keluarga Korban Kecelakaan Kereta Bekasi Timur, Anggi Al-Hakim (31), mengatakan keluarga masih menyimpan kekecewaan terhadap proses penanganan kasus tersebut.
Menurutnya, perkembangan penanganan perkara berjalan lebih lambat dibandingkan dengan harapan dan pernyataan sejumlah pihak pada awal terjadinya kecelakaan.
“Dulu banyak pejabat yang menyampaikan akan bergerak cepat. Tapi yang kami rasakan justru sebaliknya, prosesnya berjalan lambat,” ujar Anggi kepada awak media di lokasi, Jumat (7/8/2026).
Ia mengatakan, hingga 100 hari setelah tragedi, keluarga korban belum mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai perkembangan penanganan kasus.
Karena itu, keluarga meminta seluruh instansi yang bertanggung jawab memberikan informasi secara terbuka dan transparan.
“Kami meminta seluruh instansi yang bertanggung jawab atas tragedi ini memberikan informasi yang transparan kepada kami,” katanya.
Anggi menegaskan, keluarga korban tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap seluruh instansi terkait menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai prosedur.
“Kami hanya ingin setiap instansi menjalankan tugasnya sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Selain persoalan penanganan kasus, keluarga korban juga menghadapi komentar negatif di media sosial. Anggi menilai sejumlah komentar tersebut tidak menunjukkan empati terhadap keluarga yang masih berduka.
“Padahal kami pihak yang berduka,” kata Anggi.
Soroti Proses Santunan
Kekecewaan keluarga korban juga menyangkut proses penyaluran santunan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Anggi mengatakan, kepastian mengenai santunan baru diperoleh menjelang peringatan 100 hari tragedi. Menurut dia, keluarga korban harus berulang kali mencari informasi secara mandiri untuk mengetahui perkembangan proses tersebut.
“Kami sendiri yang aktif menjemput bola. Kami sudah dua kali datang ke rumah sakit dan juga ke kediaman salah satu pejabat tinggi di Jawa Barat,” ujarnya.
Meski demikian, Anggi mengapresiasi perkembangan proses yang mulai berjalan. Ia berharap seluruh hak keluarga korban dapat segera dipenuhi.
“Harapan kami tetap sama, yaitu semua instansi dan pejabat yang terlibat bekerja sesuai standar dan menyelesaikan seluruh tanggung jawabnya kepada keluarga korban,” katanya.
Jadi Momentum Mempererat Keluarga Korban
Peringatan 100 hari juga dimanfaatkan keluarga korban untuk mempererat komunikasi antaranggota keluarga yang terdampak tragedi.
Tidak seluruh keluarga korban dapat hadir dalam kegiatan tersebut. Namun, momentum ini sekaligus menjadi kesempatan bagi anggota keluarga yang baru bergabung dengan paguyuban untuk saling mengenal.
“Tadi juga kami saling berkenalan lagi supaya semua keluarga korban bisa saling mengenal,” ujar Anggi.
Sebelumnya, kecelakaan melibatkan KRL jurusan Cikarang nomor PLB 5568A dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi di emplasemen Stasiun Bekasi Timur KM 28+920 pada Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.52 WIB.
Kecelakaan tersebut mengakibatkan 106 orang menjadi korban. Sebanyak 16 orang meninggal dunia setelah menjalani perawatan, sementara 90 orang lainnya mengalami luka-luka.
Adapun seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.
