Senin, Juni 1, 2026
HukumKabupaten BekasiSosial

Misteri Kematian WN Korea di Tambun Selatan, Polisi Tangkap Terduga Pelaku

DAILYBEKASI.COM, TAMBUN SELATAN – Seorang warga negara Korea Selatan berinisial SBC (60) ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya di Kampung Buaran, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, pada Rabu (27/5/2026). Polisi menduga korban merupakan korban pembunuhan dan saat ini tengah mendalami motif di balik peristiwa tersebut.

Jenazah korban ditemukan di ruang makan rumahnya yang bercat dan berpagar ungu. Awalnya, kematian SBC sempat diduga akibat penyakit jantung yang dideritanya. Namun dugaan tersebut berubah setelah ditemukan luka tusuk dan bekas kekerasan pada bagian leher korban.

“Setahu saya kan penyakit jantung, ternyata tidak wajar. Ada luka tusuk sama pemukulan di leher,” ujar Asep (55), pengelola kos-kosan milik korban, Jumat (29/5/2026).

Polisi yang menerima laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Selanjutnya, jenazah korban dibawa ke RS Polri Kramat Jati guna menjalani autopsi untuk memastikan penyebab kematian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, polisi juga telah mengamankan seorang terduga pelaku. Meski demikian, identitas pelaku belum diungkap kepada publik lantaran proses penyelidikan masih berlangsung.

Asep mengungkapkan, SBC telah tinggal di lingkungan tersebut selama hampir 18 tahun. Selama menetap di Indonesia, korban diketahui tidak pernah kembali ke Korea Selatan.

“Sudah lama, hampir 18 tahun tinggal di sini,” kata Asep.

Korban diketahui memiliki tiga orang anak. Setelah berpisah dengan istrinya yang merupakan warga negara Indonesia, SBC tinggal bersama putri sulungnya yang kini duduk di bangku kelas 1 SMA.

“Tinggal sama anaknya yang paling besar, perempuan, kelas 1 SMA,” ujarnya.

Menurut Asep, korban dikenal sebagai pribadi yang tertutup dan jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Dalam dua tahun terakhir, SBC bahkan disebut hampir tidak pernah keluar rumah.

“Orangnya tertutup, jarang bergaul dengan orang. Sudah dua tahun di sini enggak pernah keluar,” katanya.

Asep menuturkan hubungan dirinya dengan korban sebatas urusan pekerjaan. Jika membutuhkan bantuan, SBC biasanya menghubunginya melalui telepon.

Pertemuan terakhir mereka terjadi pada Senin (26/5/2026) malam. Saat itu, Asep berpamitan kepada korban untuk berlibur ke Tasikmalaya. Ia mengaku tidak melihat adanya hal mencurigakan maupun perubahan perilaku dari korban.

“Terakhir ketemu malam Selasa. Saya cuma izin mau ke Tasik, liburan. Tidak ada apa-apa,” ungkapnya.

Dua hari kemudian, Asep menerima kabar mengejutkan mengenai kematian SBC. Dari informasi yang diterimanya, putri korban menjadi orang pertama yang menemukan sang ayah dalam kondisi mengenaskan saat pulang ke rumah.

“Anaknya pulang ke rumah, lalu menemukan ayahnya. Saya juga kaget dan malam itu langsung pulang ke sini,” tuturnya.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap kronologi lengkap, motif, serta keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan pembunuhan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *