Kamis, Juli 9, 2026
PemerintahanPendidikanSosial

Kecewa Sertifikat POPDA Tak Diakui SPMB, Orang Tua Siswa di Cilegon Pertanyakan Sistem

DAILYBEKASI.COM, CILEGON — Seorang orang tua calon peserta didik baru di Kota Cilegon mengaku kecewa lantaran sertifikat prestasi olahraga milik anaknya tidak dapat digunakan saat mendaftar melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi nonakademik di SMA Negeri. Padahal, anaknya merupakan peraih medali perunggu pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) XII Banten.

Aeni Sumira, warga Kelurahan Tegalwangi, Kecamatan Grogol, mengatakan anaknya memiliki sekitar 10 sertifikat penghargaan dari berbagai perlombaan, termasuk sertifikat juara III POPDA XII Banten. Namun, sertifikat tersebut tidak dapat diinput dalam sistem saat proses pendaftaran.

Menurut Aeni, sebelum penutupan pendaftaran jalur prestasi nonakademik pada 2–3 Juli 2026, ia telah mendatangi sekolah agar sertifikat POPDA anaknya dapat dimasukkan sebagai tambahan nilai prestasi.

“Anak saya ikut POPDA dan Alhamdulillah dapat juara tiga. Sebelum pendaftaran terakhir saya datang supaya sertifikat POPDA itu bisa dimasukkan,” ujarnya.

Namun, pihak sekolah menyampaikan bahwa sertifikat tersebut tidak dapat diinput karena sistem milik Dinas Pendidikan Provinsi Banten telah ditutup sehingga tidak memungkinkan dilakukan perubahan data.

“Kata mereka tidak bisa karena sistem dari Dindik Banten sudah ditutup,” katanya.

Aeni menjelaskan, pelaksanaan POPDA berlangsung setelah tahapan Pra-SPMB selesai. Kondisi itu menyebabkan sertifikat prestasi yang diperoleh anaknya belum sempat dimasukkan pada proses pendataan awal.

Ia kemudian mencoba mendatangi SMAN 2 Krakatau Steel agar sertifikat tersebut dapat digunakan untuk pendaftaran. Namun, upaya tersebut juga tidak berhasil karena anaknya telah mengikuti Pra-SPMB di SMAN 1 Cilegon.

“Saya ke SMAN 2 KS juga tidak bisa karena katanya Pra-SPMB anak saya di SMAN 1 Cilegon,” tuturnya.

Saat jalur prestasi dibuka, posisi anaknya sempat berada di peringkat kelima. Namun, seiring bertambahnya jumlah pendaftar, peringkat tersebut terus bergeser hingga akhirnya tidak lolos seleksi.

“Awalnya urutan kelima, lalu jadi ketujuh, kesepuluh, dua belas, sampai malam urutan ke-18. Besoknya sekitar jam setengah 11 siang nama anak saya sudah hilang, tidak diterima,” ungkapnya.

Aeni menilai, apabila sertifikat POPDA tersebut dapat diinput ke dalam sistem, peluang anaknya untuk diterima melalui jalur prestasi akan lebih besar. Selain itu, sertifikat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mendaftar ke sekolah lain apabila tidak diterima di sekolah tujuan pertama.

“Saya cuma ingin sertifikat POPDA anak saya bisa dimasukkan. Siapa tahu kalau tidak diterima di SMAN Cilegon masih bisa diterima di sekolah lain dengan tambahan nilai itu,” ujarnya.

Ia juga membandingkan pengalaman anaknya dengan peserta lain yang sama-sama mengikuti POPDA. Menurutnya, salah seorang rekannya yang mendaftar ke SMAN 2 Krakatau Steel dapat menginput sertifikat POPDA dan akhirnya diterima melalui jalur prestasi.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Dinas Pendidikan Provinsi Banten terkait mekanisme penginputan sertifikat prestasi yang diperoleh setelah tahapan Pra-SPMB berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *