Sabtu, Juli 11, 2026
PemerintahanPendidikan

Cek Keaktifan Guru Honorer, Bupati Jayawijaya Temukan Data Tak Sesuai

DAILYBEKASI.COM, JAYAWIJAYA — Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, melakukan pendataan terhadap 278 guru honorer mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga SMA/SMK. Pendataan dilakukan untuk memastikan keaktifan para guru sekaligus memperbarui data sebagai dasar pengusulan ke Kategori Dua (K2) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Pendataan tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Jayawijaya Atenius Murib melalui pertemuan tatap muka bersama 278 guru honorer di Aula Kantor Bupati Jayawijaya, Wamena, Selasa (7/7).

Dalam pertemuan itu, Bupati mengecek satu per satu nama guru honorer yang tersebar di 40 distrik. Selain mengabsen, ia juga menanyakan lama masa pengabdian serta memastikan para guru masih aktif menjalankan tugas di satuan pendidikan masing-masing.

“Kami menanyakan berapa lama mereka mengajar dan apakah mereka masih aktif mengajar saat ini,” kata Atenius Murib.

Hasil verifikasi menunjukkan adanya sejumlah perubahan data. Pemerintah menemukan beberapa guru honorer yang telah meninggal dunia, pindah tugas, hingga tercatat masih berada dalam daftar sekolah meski sudah tidak lagi mengajar.

Menurut Atenius, kegiatan tersebut penting untuk memperoleh data yang akurat mengenai jumlah guru honorer yang masih aktif mengajar di tengah berbagai keterbatasan.

Ia menjelaskan, pendataan juga bertujuan memastikan setiap satuan pendidikan, mulai dari TK hingga SMA/SMK, memiliki tenaga pendidik yang memadai, baik guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), honorer, maupun guru kontrak dari Program Indonesia Cerdas.

“Pemerintah menginginkan seluruh anak di Jayawijaya memperoleh pendidikan yang baik dan layak, sehingga guru harus benar-benar berada di tempat untuk melaksanakan tugas mengajar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Atenius menegaskan bahwa data guru honorer yang nantinya diusulkan untuk mengikuti proses K2 maupun PPPK harus benar-benar valid.

“Kami ingin memastikan data yang dikirim merupakan guru yang benar-benar ada dan masih mengajar. Jangan sampai data yang diusulkan ternyata orangnya sudah tidak ada atau bahkan telah meninggal dunia,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *